" fajar pagi....
sama seperti kemarin
angin berhembus beriring
bersama kicau burung di dahan kamboja
tepat di depan rumah tua itu "
# # # #
Dari jauh terdengar samar-samar, derap langkah kaki. Ia bangkit mengambil pentungan secepat kilat.
" Sial, ini pasti mereka?" gumannya.
" Kemana Ngatiman da Karsiman tadi?" gerutunya sembari melihat kesana kemari mencari kedua temannya itu.
Sementara Poniso kian kebingungan karena tak ditemuinya dua temannya. Derap langkah kaki itu semakin kentara. Semakin mendekat menghampirinya.
" Kurang ajar!" bentak Poniso.
" Aku harus memberi pelajaran kepada mereka!" katanya lagi.
Poniso bersiap untuk menyergap sosok misterius itu. Dalam hatinya gugup, tapi apa boleh dikata , ini adalah tugasnya sebagai penjaga keamanan. Satpam. Ketika dirasa derap langkah itu benar-benar dalam jangkauannya Poniso ambil posisi dan,,,,,,
" Hiaaaaaaaaaaaaytttttt,,, !!!" serunya.
Sambil dikibaskan pentungannya itu.
" Awas kalian, kalian sudah terkepung !" bentaknya.
Tetap saja mengibaskan kedua pentungannya.
" hihihihihihihihihihihihihihi,,,,?" seseorang tertawa kecil.
" hmmm,,,,,,,,,,,!" Poniso terkejut.
Dibuka matanya, sambil ia hentikan jurus kibasan pentungan mautnya.
" Kenapa kang Poniso ?" tanya Ngatiman
" Mungkin lagi latihan jurus baru yang baru diajari Mbah Karsi!" timpal Karsiman diselingi tawanya.
Hati Ngatiman tertawa, tapi dalam perilakunya ia menanggung gengsi yang teramat.
" Kurang ajar. Kemana saja kalian ?" tanyanya sinis.
" Wealah Poniso ini piye, katanya suruh beli kopi di warung Denok?" jawab mereka berdua dengan hampir bersamaan.
" Terus mana hasilnya?"lanjut Poniso.
"Hasil-hasil, hasil panen maksudmu?" sinis Ngatiman sembari menyodorkan bungkusan plastik tempat kopi dan juga pisang goreng pesenan Poniso.
# # # #
Malam begitu dingin
rembulan tertutup awan hitam
tiada tanda pagi akan menjelang
malam bergulir
menari
dalam hati
bersambung
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar