salam cintailah cinta

Sesaat kemudian......

| Minggu
rembulan tampak
sekejap hilang
ditelan awan hitam
kembali angin berhembus


# # # #

Sesaat kemudian Poniso, Ngatiman, Karsiman beranjak ke pos jaga mereka. Sembari menggerutu Poniso masih saja ditertawakan kedua rekannya itu. Di pos jaga itu terlihat dua kursi duduk yang dibungkus kulit berwarna hitam. Agak rombeng mungkin. Poniso duduk disebelah kiri dan diikuti Karsiman dikanannya.

Sementara Ngatiman berada diluar menyulut rokok kretek kesukaannya. Jam menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Udara dingin membuat mereka bertiga mengenakan jaket tebal.

" Moga saja ngga ada apa-apa ya ?" buka Karsiman sembari meyomot pisang goreng dimeja jaga.
" Hmmm......!" angguk Poniso mengiyakan.
" Bagaimana keadaannya tadi?" lanjut Poniso lagi.
" Kita sudah muter dari blok D sampai H. Semuanya aman dan terkendali." sahut Ngatiman.

Dari depan mereka terlihat seseorang berjalan gontai. Ngatiman melihat dengan seksama.

" Wealah, lihat tuh jagoan mabuk perumahan ini!" kelakar Ngatiman dengan menepuk bahu Poniso.
" Wha......ha....haha!" kelakar mereka bertiga.

Benar saja yang berjalan gontai itu adalah Buyung anak Pak RT Joyo Mangun. Ngatiman bermaksud mengejek Buyung yang gontai. Tetapi.....

" Bang tolong bang.............?" jerit Buyung memegang perutnya.

Sontak mereka bertiga kaget dan berniat menjemput Buyung yang linglung hendak terjatuh itu. Belum sempat tertangkap, mereka dikejutkan oleh sebuah tembakan Pistol. Dor...Dor...Dor...! Mereka bertiga urung menangkapnya tetapi kini mereka merunduk berlindung.

Derungan mobil pick up menggelegar. Rampok.....Rampok.......! teriak seorang wanita muda. Kembali suara tembakan terdengar. Poniso cs kembali berlindung.

" Astaga.........!" bisik Karsiman.
" Tenang dulu!" bentak Poniso.

# # # #

berhenti sejenak
mengawali langkah
mengakiri gejolak
hati


bersambung

0 komentar:

Posting Komentar