salam cintailah cinta

Dan sesaat kemudian

| Senin
begitu cepat
tersayat belati
begitu dapat
betapa hebat luka ini


# # # #

Sebelum mereka beranjak dari perlindungan seorang bapak menjerit, " Poniso, Ngatiman, Karsiman, cepat bantu!" serunya. Dengan cepat Ngatiman dan Poniso mendekati arah suara yang dikenalnya itu. Sementara Karsiman membantu Buyung yang terjatuh tadi.

" Mas Buyung, Mas Buyung !" dipanggil-pangilnya.
" Mas Buyung ngga apa-apa?" tanyanya lagi.

Sebentar kemudian dibaliknya tubuh Buyung yang tengkurap di tanah.

" Astagfirullah!" Karsiman terkejut melihat tubuh Buyung.

Didapatinya darah yang membasahi baju oblong Buyung. Ia memberanikan diri untuk melihat lebih seksama. Matanya melotot tak percaya, didapatinya luka seperti sabetan benda tajam.

Poniso dan Ngatiman berhenti berlari. Ditemuinya Pak Karman yang memanggil mereka tadi.

" Bagaimana pak?" tanya Ngatiman dengan nafas yang terengah-engah.
" Begini, Poniso sama saya akan masuk kerumah Bu Lina. Kamu Timan pergilah ke Pak Yusuf suruh cepat datang kemari!" perintah Pak Karman.

Secepat kilat Ngatiman berlari menuju rumah Pak Yusuf.

" Ada apa ini?" tanya seseorang.
" Sudah jangan banyak bicara. Cepat telepon Rumah sakit minta ambulans !" kata Karsiman kepada Yoseph.
" Ya, Tuhan?" kata Yoseph semabari berlari menuju rumahnya setelah melihat tubuh Buyung penuh darah.

Dari jauh terlihat sekumpulan orang berjalan setengah berlari.

" Ayo Pak, cepat Pak!" kata Karsiman kepada mereka semua.
" Ayo bapak-bapak, jangan sampai telat!" jawab Pak Yusuf.
" Ya...ya...mari cepat Pak!" sahut mereka bersamaan.

Mereka kira-kira berjumlah 10 orang lebih. Dan diantara mereka terlihat beberapa remaja juga.

# # # #

seperti biasa
api disadari
ketika kertas putih
menjadi rangkaian arang
rapuh


bersambung

0 komentar:

Posting Komentar